JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk suasana ibu kota, sebuah pertemuan hangat terjadi antara jurnalis kami, Muchlas, dengan sosok senior yang sudah tidak asing lagi di dunia akademisi dan birokrasi, DR. Anzori Tawakal.
Pertemuan ini bukan sekadar reuni antara junior dan senior UPN Veteran Jakarta. Di sela-sela waktu santainya saat berkunjung ke Jakarta, Ketua Senat Mahasiswa angkatan ke-3 UPNVJ yang dikenal vokal ini, menyempatkan diri berbagi pandangan mendalam mengenai satu tahun perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebagai sosok mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Bengkulu Tengah, sekaligus Dosen di beberapa kampus di Bengkulu . pemikiran DR. Anzori selalu dinanti sebagai rujukan.
Genap satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, berbagai sorotan tertuju pada capaian kinerja kabinet yang dikenal dengan visi Astacita. Dalam sebuah diskusi hangat sambil “ngopi sore”, jurnalis Muchlas berkesempatan mewawancarai secara eksklusif pengamat ekonomi dan kebijakan publik sekaligus akademisi DR. Anzori Tawakal untuk membedah refleksi satu tahun perjalanan pemerintahan ini.
Swasembada Pangan: Rekor Sejarah yang Membanggakan DR. Anzori Tawakal mengawali penjelasannya dengan apresiasi tinggi terhadap komitmen Presiden Prabowo dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Salah satu bukti konkret yang paling dirasakan adalah percepatan swasembada pangan, khususnya beras.
”Kita harus bersyukur memiliki pemimpin yang punya cita-cita menjadikan bangsa ini mandiri secara ekonomi, politik, dan budaya. Belum sampai empat tahun seperti janji awal, dalam satu tahun pertama ini per tanggal 7 Januari kemarin, Indonesia sudah mengumumkan swasembada beras,” ujar DR. Anzori.
Ia mencatat produksi beras nasional kini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, melampaui angka 13 juta ton dengan cadangan nasional yang kuat di Bulog. “Regulasi tegas dari Menteri Perdagangan yang tidak mengeluarkan izin impor beras adalah variabel terpenting. Ini membuat kartel atau importir yang selama ini mengambil keuntungan di tengah kelemahan tata kelola menjadi tidak berkutik,” tambahnya.
Strategi ‘Menganakemaskan’ Petani
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh DR. Anzori adalah kebijakan pemerintah yang kini mulai “menganakemaskan” petani. Hal ini dibuktikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang kini berada di atas 125%. “Artinya, petani kita sekarang bisa menabung. Harga dasar beras dijaga di angka Rp6.500 per kilogram, sehingga tidak ada lagi cerita panen raya yang tidak terserap. Pupuk, benih, hingga obat-obatan disubsidi penuh agar petani fokus meningkatkan produktivitas,” jelas Dosen di Universitas Bengkulu ini.
Makan Siang Bergizi dan Peningkatan IPM
Selain sektor pertanian, program Makan Siang Bergizi (MBG) juga menjadi sorotan. Dengan 55 juta penerima manfaat saat ini, program ini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
”Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita meningkat dari 73-74 menjadi 75, sekian di Desember kemarin. Program ini memiliki multiplier effect; tidak hanya meningkatkan kecerdasan dan IQ anak sekolah, tapi juga menggerakkan ekonomi UMKM di tingkat desa yang menyuplai telur, ikan, sayuran, dan beras,” paparnya.
Efisiensi Birokrasi dan ‘Sentilan’ untuk Daerah
Terkait tata kelola pemerintahan, DR. Anzori menyinggung soal efisiensi anggaran yang sedang digalakkan Presiden Prabowo. Ia menilai langkah pemerintah pusat melakukan efisiensi transfer ke daerah (TKD) adalah langkah tepat untuk memaksa daerah membelanjakan anggaran pada hal-hal yang produktif. ”Pemerintah daerah selama ini terbiasa membelanjakan uang yang tidak produktif. Sekarang diefisiensikan agar berdampak pada masyarakat. Jika mau kaya, jadilah pengusaha, bukan kepala daerah. Kepala daerah itu pengabdian untuk memikirkan rakyat,” tegasnya. Ia juga menyarankan agar sistem Pilkada dikaji kembali agar tidak membebani calon dengan biaya politik yang besar, yang seringkali menjadi akar korupsi di daerah.
Geopolitik dan Stabilitas Politik Nasional
Di kancah internasional, DR. Anzori memuji keberanian diplomasi Prabowo, termasuk langkah strategis masuk menjadi anggota BRICS. Langkah ini dinilai sebagai cara cerdas menjaga keseimbangan politik luar negeri non-blok di tengah ketidakpastian geopolitik global, seperti krisis di Venezuela.
Menutup bincang-bincang tersebut, DR. Anzori menegaskan bahwa Prabowo bukanlah “proksi” dari pemerintahan sebelumnya. “Beliau melanjutkan yang baik dan menyempurnakan yang kurang. Prabowo memiliki hati dan strategi transformasi yang brilian. Jika stabilitas politik yang dinamis ini terus dijaga, Indonesia Emas 2045 sudah di depan mata.”
Laporan: Muchlas Jurnalis hariankarya com
