TULANG BAWANG – Ada pemandangan berbeda di Masjid Al-Muhajirin setiap usai pelaksanaan salat Jumat. Jika biasanya jemaah mengantre untuk mendapatkan nasi kotak, kini mereka disambut dengan hidangan prasmanan yang tertata rapi. Transformasi program Sedekah Jumat (Sijum) ini dilakukan demi satu tujuan utama: mempererat tali silaturahmi antar-umat.
Program yang akrab disapa “Jumat Berkah” ini sebenarnya sudah eksis sejak tahun 2019. Namun, dalam dua bulan terakhir, pengelola melakukan terobosan besar dengan mengubah pola distribusi makanan.
Menghidupkan Suasana Kekeluargaan
Menurut Bapak Sutra, salah satu penggerak awal sekaligus donatur utama, konsep nasi kotak dirasa kurang membangun interaksi. Sebaliknya, pola prasmanan menciptakan ruang bagi jemaah untuk saling sapa dan berbincang lebih hangat
.
”Prasmanan ini baru berjalan dua bulan. Kami merasa kalau nasi kotak, interaksinya minim. Dengan prasmanan, kebersamaannya lebih terasa. Kami terinspirasi dari masjid-masjid lain yang sudah lebih dulu sukses menerapkan pola ini,” ujar Pak Sutra saat ditemui di lokasi.
Dapur Umum dan Semangat Gotong Royong
Kesuksesan program ini tak lepas dari peran “pasukan dapur”. Sekitar 15 relawan yang tergabung dalam Ibu-ibu Gang Rukun dan Kelompok Abata secara rutin mengolah sekitar 200 porsi makanan setiap minggunya.
Hebatnya, menu yang disajikan selalu bervariasi setiap pekan. Mulai dari menu utama yang bergizi hingga makanan pendamping seperti batagor, siomay, dan aneka kue tradisional.
Semua proses memasak dilakukan di sebuah rumah khusus yang telah dihibahkan menjadi dapur umum.
“Alhamdulillah, dukungan dari Paguyuban Gang Rukun dan Gang Damai sangat luar biasa. Ibu-ibu di sini sangat bersemangat untuk terus konsisten berbagi,” tambah Pak Sutra.
Transparansi Jadi Kunci Kepercayaan Donatur

Sumber pendanaan program Sijum ini sangat inklusif. Selain donatur tetap dari komunitas Abata, bantuan juga datang dari para pedagang pasar sekitar yang menyumbangkan ayam, telur, hingga sayur-mayur.
Demi menjaga kepercayaan, pihak pengelola menerapkan sistem transparansi yang ketat. Setiap donasi yang masuk, baik uang tunai maupun logistik sembako, selalu didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala melalui grup WhatsApp khusus donatur.
Visi Sosial: Dari Musafir hingga Persiapan Ramadan Masjid Al-Muhajirin tidak ingin berhenti hanya pada pemberian makan siang. Ke depan, pengelola berencana menyediakan fasilitas bagi musafir yang singgah, lengkap dengan matras, sarung, dan makanan ringan. Tak hanya lokal, komunitas ini juga tercatat aktif mengirimkan bantuan kemanusiaan ke luar daerah, seperti bagi korban bencana di Padang beberapa waktu lalu.

Menjelang bulan suci Ramadan, fokus kegiatan akan dialihkan pada agenda Buka Puasa Bersama. Bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi dalam ladang amal ini, pintu donasi masih terbuka lebar melalui tim pengurus, yakni Ibu Rika, Baim, atau Bapak Desi.
Program Sijum Masjid Al-Muhajirin menjadi bukti bahwa kreativitas dalam beramal dapat memperkuat kerukunan sosial di tengah masyarakat ( Harian Karya/Red/,Hernan Tori)
