Mesuji –Melingkar di bawah langit malam April 2026, 250 siswa SDN 5 Tanjung Raya, Mesuji, duduk hening menghadap api unggun. Di Perjusami kali ini, mereka tak sekadar berkemah. Mereka belajar menjadi penerang—seperti nyala api di hadapan mereka.
Di tengah gemerlap api unggun yang menyala, ratusan siswa pasang mata kecil memantul-mantul diterpa cahaya api unggun di halaman sekolah, Mereka duduk melingkar dalam keheningan, diam, Tak ada suara HP, tak ada riuh notifikasi. Yang terdengar hanya desau angin, suara kayu terbakar, dan sesekali isak pelan yang buru-buru dihapus dengan ujung lengan seragam Pramuka.
Malam itu malam terakhir Perkemahan Jumat, Sabtu-Minggu (Perjusami) yang digelar 10–12 April 2026. Malam renungan. Malam saat tawa tiga hari sebelumnya berubah jadi air mata haru. Sebab anak-anak itu baru saja belajar satu hal penting: kebersamaan yang sederhana ternyata bisa sangat mahal harganya.
Sejak Jumat pagi, halaman sekolah ini menyulap diri jadi perkampungan kecil. Sebanyak 23 tenda berdiri berjajar, menaungi 250 siswa kelas 4, 5, dan 6.
Tahun ini, Perjusami mengusung tema _Menyongsong Hari Kartini_. Bukan sekadar agenda rutin jelang ujian dan kelulusan, tapi ruang latihan hidup yang sengaja dirancang tanpa karpet merah.
Tak ada catering. Untuk makan, anak-anak memasak sendiri di depan tenda: beras, mie, telur, dan sayur yang dibawa dari rumah. Tidur beralas matras, dibagi regu putra dan putri. Semua berjalan karena 45 anggota Bantara dari SMKN 2 Tanjung Raya ikut mendampingi, bahu-membahu dengan dewan guru.
“Ini pengalaman kedua kami mengadakan Perjusami. Kami ingin anak-anak belajar bukan hanya di kelas, tetapi juga dari alam, dari kebersamaan, dan dari rasa tanggung jawab,” ujar Kepala SDN 5 Tanjung Raya, Duki Riyanto, S.Pd.
Menurutnya, kegiatan ini penting untuk membentuk karakter. “Mereka belajar mandiri, bertanggung jawab, dan juga mengasah kepemimpinan.”
Tiga hari penuh diisi kegiatan khas Pramuka yang padat: bangun subuh untuk sholat berjamaah, hiking menyusuri alam sekitar, hingga pentas seni. Anak-anak dilatih berani tampil, percaya diri, dan memimpin regunya sendiri. Momen api unggun jadi penutup yang paling menyentuh—saat mereka menyadari betapa berharganya kebersamaan yang dimiliki.
Bagi Duki Riyanto, api unggun bukan sekadar atraksi malam terakhir. “Api unggun bukan sekadar api. Ini simbol. Kita dituntut jadi api: sebagai penerang, penghangat, pengayom, dan penerus bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Itu makna yang ingin kami tanamkan,” tegasnya.
Di tengah gempuran gadget dan game, Perjusami justru menarik anak kembali ke hal dasar: disiplin, kedewasaan, kemandirian.
“Harapan kami, jebolan SDN 5 Tanjung Raya menjadi pribadi lebih baik dan menjiwai kepemimpinan,”
Ia ingin Perjusami jadi tradisi sekolah, agenda tahunan yang terus tumbuh. “Tidak semua anak penggalang senang dengan Pramuka. Bagaimana konsepnya biar anak punya inspirasi, mudah-mudahan anggota kita lebih banyak dari tahun ini,” harap Duki Riyanto.
Dukungan wali murid jadi kunci lain. “Terima kasih kepada panitia. Berkat kerja sama, Perjusami ini berjalan lancar. Semoga menjadi amal bagi kita semua,” tutup Duki Riyanto, sembari menatap barisan.
Ketua Pelaksana sekaligus Guru Penjas, Yosi Wibowo, menambahkan bahwa Perjusami adalah program pembentukan mental dan spiritual.
“Ini untuk mencetak generasi muda yang kuat mental dan spiritual. Mereka belajar arti disiplin, gotong royong, dan semangat pantang menyerah. Ini bekal kehidupan yang tidak mereka dapat dari pelajaran di kelas”.
Yosi Wibowo menyebut semangat itu tak berhenti di kemah. Sekolah terus menggencarkan program pengembangan diri lewat drumband, rohis, tari, dan olahraga.
“Kenangan Perjusami kedua ini akan terus menyala di hati mereka. Sebuah kenangan tentang tawa, tangis, dan kebersamaan yang tak akan pernah terlupakan.
Tentang keberanian, kepemimpinan, dan semangat Kartini yang menyala seperti api unggun: menghangatkan, menerangi, mengayomi,” ungkap Yosi Wibowo.
*Penulis: [ HT ]*
