MESUJI – Selama ini, momen pengambilan rapor identik dengan sosok ibu. Ruang kelas riuh oleh bincang wali murid perempuan, sementara para ayah mungkin sibuk dengan urusan pekerjaan di luar. Namun, mulai semester genap Tahun Ajaran 2025/2026, Dinas Pendidikan Kabupaten Mesuji melakukan terobosan unik yang siap mengubah wajah pendidikan kita: GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor).
Melalui Surat Edaran Nomor 400.3.1/180/IV.03/MSJ/2026 yang ditetapkan 11 Juni 2026, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Mesuji, Fittrya Sari, S.SI., M.M., memanggil para ayah, kakek, paman, hingga kakak laki-laki untuk mengambil peran lebih dalam pendidikan anak.
“Ini bukan sekadar ganti orang yang ambil rapor. Ini soal pesan mendalam: pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, dan kehadiran ayah itu adalah fondasi yang penting,” ungkap Fittrya Sari.
Bukan Sekadar Seremonial Gerakan ini bukan sekadar imbauan biasa. GEMAR lahir dari kesadaran kolektif yang mengacu pada kebijakan nasional (Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/
BKKBN Nomor 14 Tahun 2025) serta dukungan penuh dari Bupati Mesuji. Pemerintah ingin
mendobrak stigma bahwa urusan akademik adalah domain tunggal seorang ibu.
Penelitian modern pun mendukung langkah ini. Keterlibatan ayah di sekolah terbukti secara
signifikan meningkatkan kepercayaan diri anak, memperbaiki performa akademik, hingga menumbuhkan perilaku positif. Ketika seorang anak melihat ayahnya hadir—mendengarkan laporan wali kelas dan memberikan apresiasi langsung atas kerja kerasnya—itu bukan lagi sekadar angka di atas kertas. Itu adalah validasi kasih sayang yang akan diingat anak seumur hidup.
Membangun Budaya Baru Sekolah-sekolah di Mesuji kini diinstruksikan untuk tidak hanya memfasilitasi kehadiran para ayah, tetapi juga mendokumentasikannya. Tujuannya adalah menjadikannya budaya. Dinas Pendidikan ingin melihat momen di mana para ayah duduk di bangku sekolah, berdiskusi dengan guru, dan menyelami perkembangan buah hati mereka secara langsung.
Mesuji melalui GEMAR ingin menegaskan sebuah filosofi sederhana namun kuat: keluarga
adalah kelas pertama, dan ayah adalah guru pertama bagi anak laki-laki, sekaligus pelindung dan teladan bagi anak perempuan.
Kini, tantangannya kembali kepada kita. Apakah kita, sebagai orang tua dan masyarakat, siap merespons ajakan ini? Karena pada akhirnya, rapor hanyalah simbol, namun kehadiran ayah adalah investasi nyata bagi masa depan anak-anak Mesuji yang lebih gemilang.
Diterbitkan untuk mendukung sosialisasi kebijakan pendidikan Kabupaten Mesuji. (Hernan Tori)
