Wednesday, 6 May 2026

Jelang Lebaran, Konveksi di Bogor dan Sekitarnya Sepi Orderan

Bogor, -HarianKarya.com – Mengawali tahun 2025, dunia konveksi di Indonesia belum menunjukkan perbaikan signifikan. Imbas krisis garmen dan serbuan produk impor murah, terutama dari Tiongkok, masih menjadi tantangan besar.

Situasi ini diperparah dengan sepinya orderan menjelang Lebaran, yang biasanya menjadi puncak produksi bagi industri ini.
Kondisi ini dirasakan oleh pelaku usaha konveksi atau Complete Make to Order (CMT) di berbagai daerah, tidak hanya di Bogor, tetapi juga di Serang, Rangkasbitung, Pandeglang, Pemalang,

Purbalingga,Kebumen, bahkan Pekalongan. Sepinya orderan Lebaran sangat dirasakan oleh para penjahit rumahan yang mengandalkan pekerjaan CMT dari pabrik atau konveksi semi garmen.

Haji Rahmat, seorang pengusaha konveksi di Cinangneng, Bogor, yang telah berkecimpung di dunia garmen selama lebih dari 20 tahun, mengungkapkan bahwa kondisi orderan saat ini masih sangat sepi. “Masih sepi, belum banyak orderan masuk,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa orderan yang ada didominasi oleh barang murah dari toko online, yang jika dikerjakan justru merugikan.

Banjir produk online di media sosial menjadi salah satu penyebab kosongnya produksi pakaian massal di level CMT. Produk-produk seperti kaos, kemeja, celana, dan gamis yang biasanya diproduksi oleh CMT kini banyak dijual secara daring dengan harga murah. Akibatnya, banyak CMT yang tidak mampu bersaing dan memilih untuk tidak menerima orderan tersebut.”Ada juga yang ngambil kerjaan online daripada gak ada kerjaan katanya, ada juga yang mending nganggur dulu ajah lah,” kata Haji Rahmat.

Ongkos jahit di Bogor yang terbilang tinggi dibandingkan daerah lain seperti Serang, Rangkasbitung, dan Pandeglang juga menjadi kendala. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pabrik garmen berorientasi ekspor di Bogor yang biasa membayar ongkos tinggi, sehingga membuat ongkos jahit di wilayah ini menjadi mahal.

Para tukang jahit di Bogor kini memiliki target penghasilan per minggu yang harus dipenuhi. Jika penghasilan tidak mencukupi, mereka lebih memilih untuk tidak bekerja dan mencari pekerjaan lain. Hal ini juga menjadi penyebab berkurangnya penjahit di konveksi Haji Rahmat.

“Kalau di Serang, Rangkas, Pandeglang sama di Jawa iya masuk harga segitu, kalo disini gak ada yang mau ngerjain, dari pada ngerjain penjahit sini mah mending nganggur jadi petani atau kuli dulu ajah,” pungkas Haji Rahmat.

Meski demikian, konveksi Haji Rahmat masih bertahan dengan mengandalkan orderan seragam sekolah, almamater, jaket, kemeja, kaos, dan gamis. Ia juga memiliki pelanggan setia dari berbagai daerah, bahkan luar Pulau Jawa.

“Biasanya seragam sekolah banyak yang dari jauh jauh bukan dari sekolah di Bogor aja, dari Banten juga ada bahkan ada yang dari luar Pulau Jawa juga,” kata Haji Rahmat.
Kualitas jahitan dan ketepatan waktu

pengiriman menjadi kunci keberhasilan konveksi Haji Rahmat. Ia selalu berusaha untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan baik, bahkan seringkali menambah jumlah penjahit dan melakukan lembur untuk mengejar tenggat waktu.

Haji Rahmat berharap kondisi dunia konveksi dapat segera membaik. Ia juga berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang efektif untuk membangkitkan sektor UMKM ini.
“Gak tau juga kapan normal lagi ini,” ungkap Haji Rahmat.

Kebijakan pemerintah untuk menghentikan impor bahan dan produk jadi dinilai sudah baik, namun belum cukup efektif untuk membangkitkan UMKM konveksi. Pengawasan dan pantauan dari pihak terkait di lapangan secara berkelanjutan dan komprehensif diperlukan untuk melihat situasi riil yang dialami pelaku UMKM.

Solusi lain tentu menjadi harapan bagi para pelaku CMT seperti Haji Rahmat dan penjahit lainnya yang menggantungkan hidupnya dari dunia konveksi. Semoga keadaan ini bisa berubah lebih baik ke depannya.
(Muchlas, Kabiro Bogor Raya)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung dari ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita hariankarya.com WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029Vaxo35i6LwHeqDRW882O. pastikan sudah install aplikasi WhatsApp ya…

Berita Terbaru

video terbaru

Banner tidak ditemukan.

berita terbaru

Kepala SDN 8 Tanjung Raya Lidia Wati, S.Pd. Gelar Persami 25–26 April 2026* _Mengusung Tema “Pramuka Hebat, Generasi Kuat”_

Kepala SDN 8 Tanjung Raya Lidia Wati, S.Pd. Gelar Persami 25–26 April 2026* _Mengusung Tema “Pramuka Hebat, Generasi Kuat”_

*Mesuji* – Di tengah gemerlap api unggun, ratusan siswa SDN 8 Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, duduk melingkar dalam keheningan. Mata

Lidia Wati, S.Pd. Susun Model Mendongeng Lampung untuk Jaring Bibit Unggul FTBI 2026

Lidia Wati, S.Pd. Susun Model Mendongeng Lampung untuk Jaring Bibit Unggul FTBI 2026

BANDAR LAMPUNG – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung menjadi tuan rumah kegiatan _Bimbingan Teknis Guru Utama Revitalisasi Bahasa

Api Unggun PerJuSa Nyalakan Karakter Siswa SDN 11 Simpang Pematang

Api Unggun PerJuSa Nyalakan Karakter Siswa SDN 11 Simpang Pematang

Mesuji – Malam terasa dingin di halaman SDN 11 Simpang Pematang, Margo Makmur. Namun ratusan pasang mata siswa justru berbinar. Api

Api Unggun Perjusami SDN 5 Tanjung Raya 2026: Saat 250 Siswa Belajar Jadi Penerang

Api Unggun Perjusami SDN 5 Tanjung Raya 2026: Saat 250 Siswa Belajar Jadi Penerang

Mesuji – Melingkar di bawah langit malam April 2026, 250 siswa SDN 5 Tanjung Raya, Mesuji, duduk hening menghadap api unggun.

Bupati Mesuji Elfianah Ambil Uang Receh Dari Tangan Masyarakat

Bupati Mesuji Elfianah Ambil Uang Receh Dari Tangan Masyarakat

Bupati Kabupaten Mesuji Elfianah yang dikenal sebagai bupati belusukan dan sering berbaur dengan semua kalangan, ternyata juga memiliki karakter alami

​Tinggalkan Nasi Kotak, Masjid Al-Muhajirin Tulang Bawang Usung Konsep Prasmanan untuk Sedekah Jumat

​Tinggalkan Nasi Kotak, Masjid Al-Muhajirin Tulang Bawang Usung Konsep Prasmanan untuk Sedekah Jumat

TULANG BAWANG – Ada pemandangan berbeda di Masjid Al-Muhajirin setiap usai pelaksanaan salat Jumat. Jika biasanya jemaah mengantre untuk mendapatkan